SMK Negeri 1 Rembang Jalan Gajah Mada 1 Rembang

Rabu, 06 Agustus 2014

ASIMILASI

ASIMILASI

Asimilasi adalah pembauran dua kebudayaan yang disertai dengan hilangnya ciri khas kebudayaan asli sehingga membentuk kebudayaan baru. Proses asimilasi itu ditandai oleh pengembangan sikap-sikap yang sama, yang walaupun terkadang bersifat emosional, bertujuan untuk mencapai kesatuan, atau paling sedikit untuk mencapai integrasi dalam organisasi dan tindakan. Secara matematis proses asimilasi dapat ditulis : Aa + Bb + Cc = Dd yang berarti bahwa kelompok etnik A, B, dan C karena faktor-faktor pendorong asimilasi terpenuhi, mengalami peleburan unsur-unsur kebudayaan kelompok etnik a + b + c menghasilkan kebudayaan baru d, yang sebelumnya tidak ada dalam kebudayaan A, B, maupun D.
Jenis-jenis asimilasi
  1. Asimilasi budaya : proses mengadopsi nilai, kepercayaan, dogma, ideologi bahasa dan sistem simbol dari suatu kelompok etnik atau beragam kelompok bagi terbentuknya sebuah kandungan nilai, kepercayaan, dogma, ideologi bahasa maupun sistem simbol dari kelompok etnik baru.
  2. Asimilasi struktural : proses penetrasi kebudayaan dari suatu kelompok etnik ke dalam ke dalam kebudayaan etnik lain melalui kelompok primer seperti keluarga, teman dekat,DLL
  3. Asimilasi perkawinan, atau sering disebut asimilasi fisik yang terjadi karena perkawinan antar etnik atau antarras untuk melahirkan etnik atau ras baru

Syarat asimilasi
Asimilasi dapat terbentuk apabila terdapat tiga persyaratan berikut.
  • terdapat sejumlah kelompok yang memiliki kebudayaan berbeda.
  • terjadi pergaulan antarindividu atau kelompok secara intensif dan dalam waktu yang relatif lama.
  • Kebudayaan masing-masing kelompok tersebut saling berubah dan menyesuaikan diri.
Faktor pendorong
Faktor-faktor yang mendorong atau mempermudah terjadinya asimilasi adalah sebagai berikut.
  • Toleransi antar kelompok yang berbeda kebudayaan
  • Kesempatan yang seimbang dalam bidang sosial atau ekonomi
  • Sikap menghargai orang asing dan kebudayaan mereka
  • Sikap terbuka dari golongan etnik dominan terhadap kelompok etnik minoritas
  • Persamaan unsur kebudayaan
  • Perkawinan antara kelompok yang berbeda budaya
  • Adanya musuh yang sama

Faktor penghalang
Faktor-faktor umum yang dapat menjadi penghalang terjadinya asimilasi antara lain sebagai berikut.

  • Kelompok yang terisolasi atau terasing (biasanya kelompok minoritas)
  • Kurangnya pengetahuan mengenai kebudayaan baru yang dihadapi
  • Prasangka negatif terhadap pengaruh kebudayaan baru. Kekhawatiran ini dapat diatasi dengan meningkatkan fungsi lembaga-lembaga kemasyarakatan
  • Perasaan bahwa kebudayaan kelompok tertentu lebih tinggi daripada kebudayaan kelompok lain. Kebanggaan berlebihan ini mengakibatkan kelompok yang satu tidak mau mengakui keberadaan kebudayaan kelompok lainnya
  • Perbedaan ciri-ciri fisik, seperti tinggi badan, warna kulit atau rambut
  • Perasaan yang kuat bahwa individu terikat pada kebudayaan kelompok yang bersangkutan
  • Golongan minoritas mengalami gangguan dari kelompok penguasa

Minggu, 09 Februari 2014

Materi bab 1 smk kelas XI semester 1

BERCAKAP-CAKAP SECARA SOPAN
DENGAN MITRA BICARA DALAM KONTEKS
BEKERJA

A. Pilihan Kata atau Ungkapan untuk Memulai Percakapan
Proses penyampaian bahasa Indonesia dalam berkomunikasi secara
lisan dapat dilakukan dalam dua cara, yaitu secara langsung dan tidak
langsung. Secara langsung maksudnya berhadapan atau bertatap muka
dengan mitra bicara dan tidak langsung ialah dengan menggunakan sarana
seperti telepon atau media komunikasi yang lainnya. Apa pun caranya,
yang jelas setiap proses komunikasi dilakukan dengan tujuan agar pesan
yang disampaikan dapat dipahami oleh kedua pihak sehingga terjadi hasil
yang efektif dan memuaskan.

Agar dapat terjadi hubungan komunikasi timbal balik yang sesuai
dengan tujuan komunikasi, segala hal yang berkaitan dengan proses
komunikasi harus diperhatikan. Unsur utama dalam komunikasi adalah
bagaimana seseorang dapat menggunakan bahasa yang baik dan tepat.
Selain itu, perlu dipertimbangkan pula aspek situasi, waktu, tempat, dan
hubungan pembicara mitra atau kawan bicaranya, misalnya, saat membuka
percakapan, saat menyampaikan pesan, dan ketika akan menutup
pembicaraan. Hal ini biasanya memengaruhi pilihan kata dan ungkapan
yang digunakan dalam percakapan.
Untuk memulai percakapan dalam situasi formal biasanya menggunakan
ungkapan sebagai berikut.
1. Selamat pagi.
2. Selamat siang.
3. Selamat malam.
4. Assalamu’alaikum pemirsa di mana saja Anda berada.
5. Salam sejahtera bagi kita semua.
6. Selamat malam para pendengar radio.
7. Selamat datang.

Atau ucapan pembuka dengan sapaan:
1. Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu serta hadirin ... selamat malam.
2. Para tamu undangan yang kami muliakan.
3. Assalamu ‘alaikum, Saudara-saudaraku ....
4. Yang terhormat dewan guru ....
5. Yang saya hormati Kepala Sekolah ....
6. Teman-teman yang saya cintai, selamat pagi ....
7. Siswa-siswi yang saya sayangi ....
8. Para pendengar setia radio Sonora, selamat berjumpa.
9. Hadirin yang berbahagia, selamat datang, selamat malam ....
10. Para karyawan PT. Sejahtera, selamat siang ....
11. Sahabat yang dimuliakan Allah, Assalamu’alaikum ....
12. Para pemirsa, kita berjumpa lagi selama tiga puluh menit ke depan....
13. Selamat malam, Pak, saya Ardi. Bisa bertemu dengan ....
14. Selamat pagi, apakah saya bisa bertemu dengan Bapak ....

Ungkapan pembuka lewat telepon dalam ragam formal:
1. Assalamu’alaikum…
2. Selamat pagi. Bisa bicara dengan… saya dari…
3. Selamat sore, ada yang bisa saya bantu?
4. Halo, selamat siang…
5. Selamat pagi. Saya Ahmad. Bisa bicara dengan...
6. Wa’alaikum salam, Yayasan Restu Ibu, ada yang bisa kami bantu?
7. PT. Rahmat, Assalamu’alaikum, ada yang bisa dibantu?
8. Cafe Halal, Selamat Malam...
9. Selamat sore. Maaf mengganggu, bisa bicara dengan...

Ungkapan atau salam pembuka pada percakapan di telepon dalam
situasi nonformal:
1. Halo, gimana kabarnya?
2. Halo, Rahmatnya ada?
3. Halo, ada Wiwin, Bu?
4. Halo, Pak. Bisa dengan Zulkifli?

B. Salam dan Ungkapan dalam Mengakhiri Percakapan
Ketika akan mengakhiri percakapan biasanya seseorang akan
menegaskan kembali hal-hal pokok yang berkaitan dengan materi
pembicaraan yang dianggap penting untuk diingat atau dilakukan kepada
kawan bicaranya. Selanjutnya baru menyampaikan ucapan penutup
pembicaraan.
Saat akan mengakhiri percakapan, biasanya pembicara mengucapkan
hal-hal seperti di bawah ini:
1. Menegaskan kembali yang hal penting dari apa yang telah dibicarakan
agar tetap diingat atau tak lupa untuk dilakukan.
Dalam situasi formal
Contoh:
1. Baiklah, jangan lupa datang di acara wisudaku.
2. Baiklah pemirsa di rumah, jika ada saran dan kritik, kirimkan ke ...
3. Jadi, jangan sampai lupa rencana kita.
4. Baiklah, sampai bertemu besok di rapat.
5. Sebelum mengakhiri diskusi ini, saya ingatkan kembali ....
6. Sebelum menutup rapat ini, saya tegaskan kembali ....
7. Demikian yang bisa saya sampaikan, ingat ....
8. Sekian saja pertemuan kita hari ini, jangan lupa ....
9. Sebelum ditutup, saya ingatkan kembali ....
10. Sebagai penutup, kita simpulkan bahwa ....
11. Insya Allah, kita akan mengadakan pertemuan kembali ....
Dalam situasi nonformal
Contoh:
1. Oke, jangan lupa besok ketemu ....
2. Udah dulu, ya, pokoknya besok ....
3. Oke, jadi, kan besok?
4. Sampai minggu depan, ingat kita masih ada urusan
5. Sip deh, jadi kita besok berangkat ....

2. Mengucapkan terima kasih
Dalam situasi formal
Contoh:
1. Atas perhatian Bapak dan Ibu sekalian, kami mengucapkan terima
kasih.
2. Terima kasih atas waktu dan kesempatannya.
3. Terima kasih atas kesedian waktunya.
4. Terima kasih atas segala bantuan yang telah diberikan.
5. Terima kasih untuk pesan-pesannya.
Dalam situasi nonformal
Contoh:
a. Makasih banyak!
b. Makasih, ya!
c. Trims, yuk!
d. Thanks sudah mau kasih saran!

3. Permintaan maaf
Dalam situasi formal
Contoh:
1. Kami mohon maaf jika ada pelayanan yang tak berkenan.
2. Mohon maaf jika ada kata-kata yang tak pantas.
3. Sebelumnya kami mohon maaf bila tak berkenan ....
4. Mohon maaf atas keterlambatan ....
5. mohon dibukakan pintu maaf jika ada kesalahan ucapan ....
Dalam situasi nonformal
Contoh:
1. Maaf, ya, kalau ada salah ucap.
2. Maafin ya, kalau ada salah kata.
3. Maaf, ya!

4. Ungkapan perpisahan serta harapan
Dalam situasi formal
Contoh:
1. Selamat jalan semoga sampai ditujuan.
2. Semoga berhasil, sampai jumpa.
3. Selamat berpisah, semoga kita bertemu lagi.
4. Sampai berjumpa dalam kesempatan yang lain.
5. Sampai di sini dulu pertemuan kita, semoga sukses.
Ucapan perpisahan nonformal
Contoh:
1. Dada ...
2. Bye ...
3. Goodbye ..
4. Sampai nanti,ya ..
5. Dah, yuk!
6. Sampai nanti, ya!
7. Salam buat keluarga, ya!

5. Menutup percakapan dengan salam penutup. Salam penutup biasanya
disesuaikan dengan salam pembuka atau berdaarkan waktu.
Dalam situasi formal
Contoh:
1. Assalamu’alaikum.
2. Selamat malam.
3. Selamat siang.
Salam penutup dalam situasi nonformal
Contoh:
1. Met malam!
2. Malam.
3. Assalamu’alaikum.
4. Siang.

C. Penerapan Pola gilir dalam Percakapan secara Aktif
Dalam percakapan terkadang terjadi pola satu arah diakibatkan oleh
seseorang mendominasi pembicaraan. Agar percakapan dapat berlangsung
dengan merata dalam arti setiap orang yang terlibat percakapan mendapat
giliran yang sama dalam berbicara, dapat diterapkan sistem pola gilir.
Penerapan pola gilir dapat dilakukan dengan cara melemparkan pertanyaan.
Apalagi jika Anda moderator atau pemimpin dalam diskusi, Anda bisa
meminta anggota lainnya memberikan pendapat, gagasan, atau penilaian.
Di bawah ini, beberapa contoh ungkapannya.
1. Bagaimana menurut pendapat Anda?
2. Mungkin di antara kalian ada yang berpendapat lain?
3. Menurut pandanganmu gimana?
4. Adakah yang memiliki pendapat lain?
5. Mungkin ada yang mempunyai gagasan lain?
6. Saya yakin ada yang mempunyai pendapat yang lebih baik.

D. Mengalihkan Topik Pembicaraan secara Halus
Dalam suatu percakapan baik formal, semi formal, maupun nonformal,
pengalihan pembicaraan ke topik lain biasa terjadi. Hal ini bisa diakibatkan
karena adanya keterkaitan antara satu masalah terhadap masalah lainnya
atau satu topik terhadap topik lainnya. Dalam suatu pembicaraan,
pengembangan gagasan atau meluasnya pembicaraan kepada pokok
pembicaraan yang lain masih dianggap wajar jika tetap pada pokok
persoalan yang sedang dibahas.
Proses pengalihan topik pembicaraan bisa disadari dan juga tidak
disadari. Jika memang harus dilakukan, pengalihan topik dapat dilakukan
secara halus dan santun agar tak mengganggu kenyamanan proses
percakapan yang tengah berlangsung. Pengalihan topik dapat dilakukan
dengan ungkapan berikut.
1. Mungkin ada kaitannya dengan ....
2. Mungkin menyimpang sedikit, tapi ....
3. Bagaimana menurut Anda mengenai faktor lain seperti ....
4. Maaf, saya dengar Ibu suka juga pada ....
5. Bagaimana jika kita meninjau sisi lain misalnya ....
6. Persoalan ini berkaitan juga dengan masalah...

Dalam situasi nonformal, pengalihan topik pembicaraan dapat
dilakukan dengan menyatakan ungkapan:
1. Saya dengar Bapak bisa melakukan hal lain, seperti ....
2. Wah, makin seru kalau kita bicara soal ....
3. Boleh tau pandangan Ibu tentang ....
Pengalihan topik dalam suatu diskusi bisa saja menyimpang dari pokok
persoalan semula. Hal ini tidak boleh dibiarkan. Jika Anda moderatorAnda harus bisa mengembalikan pembicaraan yang menyimpang tersebut kembali pada topik pembicaraan yang sebenarnya, dengan mengucapkan:
1. Maaf, pertanyaan agar dipersingkat.
2. Maaf, pertanyaan langsung ke pokok permasalahan.
3. Pertanyaan agar terfokus pada topik pembicaraan ....
4. Saya ingatkan kembali bahwa topik pembicaraan kita adalah ....

E. Menggungkapkan Perbedaan Pendapat secara Halus
Perbedaan pendapat di antara pembicara baik pada forum diskusi atau
situasi semiformal sudah biasa terjadi. Tidak setiap orang selalu menyetujui
pendapat mitra bicaranya. Masing-masing orang memiliki pandangan
atau pemikirannya sendiri. Tetapi, perbedaan pendapat itu tak boleh
menjadi pemicu konflik. Perbedaan pendapat dapat semakin memberi
wawasan yang lebih luas tentang suatu pokok permasalahan. Mencari
solusinya bisa lebih variatif. Segala unsur yang berbeda dicarikan sudut
persamaannya atau disinergikan untuk mengarah pada satu kesimpulan
atau penyelesaian. Bukan hanya itu saja, setiap perbedaan pendapat harus
dihormati dan disikapi secara santun. Ungkapan seperti, mustahil, itu tidak
benar, pendapatnya tidak masuk akal, dan itu gagasan orang bodoh harus
dihindari. Ungkapan itu bukan saja dapat menyinggung mitra bicara, tetapi
juga bisa merendahkan harga diri orang.
Menyampaikan pendapat yang berbeda atau menyanggah pendapat
orang lain yang berbeda dengan pendapat kita dapat dilakukan secara
halus dengan mempertimbangkan hal-hal berikut.
(1) Nyatakan permohonan “maaf” dahulu.
(2) Berikan kesan mendukung gagasan yang akan disanggah sebelum menyertakan kekurangannya.
(3) Ungkapkan kekurangan dengan perkataan yang halus seperti, “kurang” atau “belum,” bukan kata-kata “tidak”.
(4) Ungkapkan kekurangan pendapat mitra bicara dengan alasan yang logis.

Kamis, 06 Februari 2014

Soal -soal

Kumpulan soal-soal
Materi : Relasi dan Fungsi
  1.  Diketahui :

P = {(1,1), (1,2), (2,2), (3,3)}              R = {(1,1), (2,3), (3,4), (3,5)}
Q = {(1,1), (2,3), (3,3), (4,1)}             S = {(1,1), (2,3), (3,3), (3,4)}

Himpunan pasangan berurutan di atas, yang merupakan fungsi adalah ….
a.       P                                                                c.   R
b.      Q                                                               d.   S
2. Suatu fungsi didefinisikan f(x) = 7 -  dengan x {-2, 0, 2, 4}. Daerah hasil fungsi tersebut adalah ….
a.       {6, 7, 8, 9}                                                            c.   {8, 6, 4, 2}
b.      {8, 7, 6, 4}                                                            d.   {8, 7, 6, 5}

3. Diketahui P = {a, b, c, d} dan Q = {1, 2, 3}. Banyaknya pemetaan yang mungkin dari himpunan P ke himpunan Q adalah ….
a.       81                                                              c.   12
b.      64                                                              d.   7

            4. Diketahui X = {1, 2} dab Y = {a, b, c}. Banyaknya fungsi yang mungkin dari Y ke X adalah ….
a.       5                                                                c.   8
b.      6                                                                d.   9
5. Suatu fungsi dari P ke Q dinyatakan sebagai {(1,2), (2,3), (3, 3), (4,4)}. Notasi itu adalah ….
a.       f : x x – 2                                          c.   f : x x + 2
b.      f : x x + 1                                         d.   f : x x + 3

          6. Fungsi f didefinisikan dengan rumus f(x) = 7 – 2x – 3x2, bayangan -3 oleh fungsi tersebut adalah ….
a.       -16                                                             c.   28
b.      -14                                                             d.   40

 7. Suatu fungsi linear didefinisikan dengan f(x) = ax + b dengan xR. Jika pada fungsi tersebut              diketahui f(-2) = -8 dan f(5) = 13, maka nilai a dan b berturut-turut adalah ….
a.       -3 dan 2                                                     c.   2 dan -3
b.      -2 dan 3                                                     d.   3 dan -2

        8. Diketahui f(x) = 2x – 3, pada himpunan bilangan bulat dinyatakan dalam pasangan berurutan {(a,3),                (b,-5), (-2,c), (-1,d)}. Nilai a + b + c – d adalah ….
a.       -1                                                               c.   2
b.      1                                                                d.   0
 9. Suatu fungsi dirumuskan f(x) = ax + b. Jika f(-2) = 14 dan f(3) = -1, maka nilai a dan b adalah ….
a.       -3 dan 8                                                     c.   2 dan 5
b.      3 dan 8                                                      d.   5 dan -2

 10. Jika  f(x) = 3x – 2 dan f(a) = 19. Maka nilai a adalah ….
a.       6                                                                c.   55
b.      7                                                                d.   57
 11. Koordinat titik potong fungsi f(x) = 3x – 18  dengan sumbu x adalah ….
a.       (6, 0)                                                          c.   (-6, 0)
b.      (0, 6)                                                          d.   (0, -6)

12. Koordinat titik potong fungsi g(x) = 20 – 5x  dengan sumbu y adalah ….
a.       (0, 20)                                                        c.   (4, 0)
b.      (20, 0)                                                        d.   (0, 4)
 13. Jika A = {2, 3, 4, 5} dan B = {3, 4, 5, 6}, relasi dari himpunan A ke himpunan B adalah “satu kurangnya dari”. Maka relasi tersebut jika dinyatakan dengan himpunan pasangan berurutan adalah ….
a.       {(2,1), (3,2), (4,3), (5, 6)}                         c   {(2,3), (3,4), (4,6), (3,5)}
b.      {(1,2), (2,3), (3,4), (4,5), (5,6)}                 d.   {(2,3), (3,4), (4,5), (5,6)}

       14. Fungsi f : x 3x – 5 dengan x{-3, -2, -1, 0, 1, 2}. Daerah hasil fungsi f adalah ….
a.       {4, 1, -2, -5}                                              c.   {-9, -6, -3, 0, 3, 6}
b.      {-14, -11, -8, -5, -2, 1}                              d.   {-24, -21, -8, -5}




Selasa, 04 Februari 2014

Lagu Jawa

lagu drama bahasa jawa untuk Andhe Andhe Lumut :
A[nFA[nFlumut\
?put]kusiA[nFA[nFlumut]
temurunanputi]k=au=ghau=ghai,
puti][nk=ayurup[n,
keLnQi=Ab=aikuk=ffiasM[n,
duhsibukul[mBotenPurun\
ai=k=put][mBotenPurunUud,
ndYnHyuaikutipkesiyuyuk=k=.

?put]kusiA[ndA[ndlumut\
temurunanaputi]k=au=ghau=ghai,
puti][nk=alarup[n,
keLnQi=kuni=aikuk=ffiasM[n,
duhsibukulai=gihpurun\
ai=k=put]smPunHi=gihmud,

ndYnHlaikukulai=gihpurun\.

Jenis jenis Wacana_by Dila Ayu M

A. Pengertian wacana
Wacana adalah sebuah tulisan yang teratur menurut urut-urutan
yang semestinya atau logis. Dalam wacana setiap unsur-unsurnya harus
memiliki kesatuan dan kepaduan.
Sebelum menulis wacana, seseorang harus menentukan tema, tujuan
yang sesuai dengan bentuk wacana, dan menyusun kerangka karangan.
Membuat kerangka karangan sangat dianjurkan sebelum penulisan,
terutama bagi pengarang pemula. Agar penyusunan kerangka karangan
menjadi acuan pembuatan karangan, calon penulis sebaiknya mengetahui
langkah-langkah menyusun kerangka karangan. Kerangka karangan
dapat di tulis dalam dua bentuk, yaitu kerangka kalimat dan kerangka
topik.
B. Jenis-Jenis Wacana
Berdasarkan bentuk atau jenisnya, wacana dibedakan menjadi
wacana narasi, deskripsi, eksposisi, argumentatif, dan persuasi.
1. Narasi
Narasi adalah cerita yang didasarkan pada urut-urutan suatu kejadian
atau peristiwa. Narasi dapat berbentuk narasi ekspositoris dan narasi
imajinatif. Unsur-unsur penting dalam sebuah narasi adalah kejadian,
tokoh, konflik, alur/plot, serta latar yang terdiri atas latar waktu, tempat,
dan suasana.
2. Deskripsi
Deskripsi adalah karangan yang menggambarkan/suatu objek
berdasarkan hasil pengamatan, perasaan, dan pengalaman penulisnya.
Untuk mencapai kesan yang sempurna bagi pembaca, penulis
merinci objek dengan kesan, fakta, dan citraan. Dilihat dari sifat objeknya,
deskripsi dibedakan atas 2 macam, yaitu deskripsi Imajinatif/Impresionis dan deskripsi faktual/ekspositoris.
3. Eksposisi
Karangan eksposisi adalah karangan yang memaparkan atau
menjelaskan secara terperinci (memaparkan) sesuatu dengan tujuan
memberikan informasi dan memperluas pengetahuan kepada
pembacanya. Karangan eksposisi biasanya digunakan pada karyakarya
ilmiah seperti artikel ilmiah, makalah-makalah untuk seminar,
simposium, atau penataran.
Tahapan menulis karangan eksposisi, yaitu menentukan objek
pengamatan, menentukan tujuan dan pola penyajian eksposisi,
mengumpulkan data atau bahan, menyusun kerangka karangan, dan
mengembangkan kerangka menjadi karangan.
Pengembangan kerangka karangan berbentuk eksposisi dapat
berpola penyajian urutan topik yang ada dan urutan klimaks dan
antiklimaks.
4. Argumentasi
Karangan argumentasi ialah karangan yang berisi pendapat,
sikap, atau penilaian terhadap suatu hal yang disertai dengan alasan,
bukti-bukti, dan pernyataan-pernyataan yang logis. Tujuan karangan
argumentasi adalah berusaha meyakinkan pembaca akan kebenaran
pendapat pengarang.
Tahapan menulis karangan argumentasi, yaitu menentukan tema atau
topik permasalahan, merumuskan tujuan penulisan, mengumpulkan data
atau bahan berupa: bukti-bukti, fakta, atau pernyataan yang mendukung,
menyusun kerangka karangan, dan mengembangkan kerangka menjadi
karangan.
Pengembangan kerangka karangan argumentasi dapat berpola
sebab-akibat, akibat-sebab, atau pola pemecahan masalah.